Tuesday, December 3, 2013

Untuk RW

Maafkan karena pada akhirnya aku tahu namamu. Tapi percayalah hanya sampai di situ. Aku tak akan mencari tahu bagaimana wajahmu, di mana rumahmu atau apa mata kuliah favoritmu.

Rasanya mengucapkan "sama seperti aku yang bisa tetap kuat, kamu juga harus kuat" tidak akan pernah menjadi relevan. Kita sama-sama pernah dikhianati oleh orang yang kita salutkan, sama-sama pernah dilecehkan oleh apa yang kita anggap sakral. Sakitnya memang luar biasa, tapi tetap saja apa yang kamu rasakan jauh lebih sakit dari apa yang aku rasakan.

Ah, cukuplah membanding-bandingkan sakit dan beban. Karena kita menahan perih masing-masing, sebab kita melawan malu masing-masing.

Jadi, surat ini tak akan panjang. Akupun paham kalau kamu sudah terlalu muak dengan banyak hal. Dengan olok-olok yang menikammu, dengan belas kasihan yang merendahkanmu. Tapi di atas segala muakmu, di atas segala takutmu - kuatlah. Tetaplah kuat, karena mereka akan menerkammu saat kamu menolak untuk menjadi kuat.

-Marini Saragih-
Read More

Tuesday, November 26, 2013

Kediri

Ada yang aneh dengan kota ini. Bukan kota besar, bukan kota yang dipenuhi oleh seabrek tempat menyenangkan – tapi memberikan banyak hal. Sejumlah pemberian yang pada akhirnya dapat aku simpulkan menjadi satu kalimat – masalah panjang atau pendek biar itu menjadi persepsi masing-masing. Toh, semua berhak punya ukuran sendiri-sendiri sesuai hemat. Jadi, tepat tiga tahun tiga bulan yang lalu dengan berbagai alasan mendetail yang tak lagi aku ingat – atau jangan-jangan aku sama sekali tak punya alasan detail – aku memutuskan untuk menghidupi apa yang harus aku hidupi dari kota ini.

Bukan kota pertama, sejatinya ini kota kedua sejak aku memutuskan untuk hidup berpisah dengan mereka yang disebut sebagai keluarga. Dengan kenaifan khas orang muda aku membayangkan kebebasan yang bakal menjadi santapan sehari-hari. Pulang malam tanpa amukan mama, melakukan apa yang menjadi kesenanganku tanpa cibiran abang, memberikan hal besar kepada mereka yang menjadi sedarah denganku tanpa pengawasan memuakkan namun ada sedikit rindu kepada papa.

Iming-iming kemerdekaan lengkap dengan bumbu melankolis ala anak perempuan yang ditinggal mati papanya adalah hal yang waktu itu membuatku yakin bahwa segala sesuatunya akan menjadi menyenangkan untukku. Berbagai kalimat yang diawali dengan “akhirnya” membuatku tak sabar untuk segera melangkahkan kaki dan berpindah pulau.

Lantas semuanya memang tak mulus. Lucunya hari ini aku menyadari bahwa kota pertama yang awalnya berarti kebebasan justru menjadi benang kusut yang tak bisa aku rapikan kembali. Bukan jalan buntu, karena pada akhirnya tetap menemukan jalan untuk melarikan diri. Aku pun mengakui kepengecutanku. Tapi aku juga tak menyangkal kalau rasanya tak ada yang lebih baik lagi jika dibandingkan dengan melarikan diri.

Melarikan diri dari segala hal yang tak bisa aku selesaikan, melarikan diri dari hal-hal berharga yang mau tak mau harus aku tinggalkan di sana. Tentang sahabat, tentang cerita manis, tentang mimpi masa muda, tentang iming-iming keberhasilan. Sebaik apapun mungkin terlalu berat untuk dibawa. Pergi dalam gamang itu benar-benar memuakkan. Entah menyesal, entah bersyukur – aku pun tak paham. Yang jelas aku lari saja.

Kata temanku, jogging dari kenyataan. Kataku, yang namanya jogging sudah pasti sehat. Hehe.

Pada akhirnya umur memang mempengaruhi pola pikir. Mengikis mimpi-mimpi naif dan memaksa semuanya jadi lebih realistis. Kata orang, logika tak seluas itu. Ruangannya tak pernah cukup untuk memuat hal-hal yang terlampau besar. Daripada rubuh, lebih baik menyimpan secukupnya.

Jadi, di kota ini aku tanpa mereka yang dulu hampir setiap hari bisa aku lihat. Berat juga. Tapi menjadi sendiri memang keahlianku. Toh, semuanya juga bakal mati sendiri-sendiri nantinya. Anggap saja latihan, pikirku waktu itu.

Dibilang tak rumit, jelas tak akan mungkin - karena di sini memang tak seperti itu. Awalnya aku mengutuk lantas memaki. Yang terjadi di sini, berkorban itu tak menyenangkan. Apalagi setelah berkorban mereka menikam dan hariku jadi berbelit. Rasanya ingin merebut nafas mereka yang melega dan menggantinya dengan nafasku. Tapi Tuhan memang sudah memberikan jatah nafas masing-masing - apa boleh buat, hadapi saja.

Di sini memang tak ramai, di sini jauh dari hingar tapi aku bertemu dengan orang ini. Ayah dari dua orang anak, suami dari seorang istri. Waktu bertemu kami memang tak lama. Tapi satu dua menit darinya membuatku berani untuk mengakui kalau sebenarnya kota kecil ini pintar mengundang gelak tawa. Bukan tawa sinis, memang karena senang walaupun aku masih belum puas. Ada takut yang mengajariku cara menjadi berani, ada yang meninggalkan lalu aku bertemu dengan yang baru. Ada kebodohan yang menyadarkanku cara menjadi pintar – jauh lebih pintar daripada telepon-telepon pintar kebanggaan mereka. Ada ketidakadilan yang mempersetankan segala iming untuk menjadi tak adil, ada olok-olok yang justru sanggup membuatku bersyukur. Ada gelap yang berangsur menjadi remang menyenangkan, ada rendah diri yang meyakinkan kalau nantinya aku bakal ditinggikan. Semacam kontradiksi dengan segala nikmatnya yang menjadi candu.

Sepertinya hari ini menjadi salah satu hari paling melankolis. Melankoli yang ironis, melankoli yang melegakan tanpa sedu-sedan. Melankolinya menyenangkan karena bisa aku nikmati bersama logika. Lantas, besok ada kota yang baru. Entah selama apa, aku tak mau ambil pusing. Karena yang terpenting aku sudah tahu apa yang aku mau. Dan akan jadi seperti apa, lihat saja nanti.

Hari ini kopiku nikmat, hari ini rokokku ringan – jadi aku pun senang, apalagi senjanya sudah datang.



Read More

Saturday, November 16, 2013

Saturday, a Minute after I Listened to May 16


I look into their eyes then find something queer. The queerness I’ve never had, the queerness I’ve never felt. I don’t understand about it. But as I rush to reach what they preach as something worth having, it is crystal clear that it doesn’t suit me at all. It is like a manifestation of privilege. Something brings them into a safe place. They applause it, they are devoted to it. But to me, it means a prick smile that skews me inside.

Friday night I was in a fight, the same old vexing argument that used to stab my back. Now I’m wounded, having a pain that sent me sprawling. But hey – the antidote – as the memories come rushing back and it makes all beyond harder, I’m finally convinced that I’m uninvited into somewhere they believe as the most intact tranquility. The tranquility that ironically whispers through my ears about how frail itself.

It is odd, the antidote – it is completely odd. But as the same as God reminds me of the unseen eternal life apparently I have inside, it gives me strength. The strength to be a curious one, to torn the whole secret behind what I’ve lived up.

And one day – the antidote – one day I will share you it, until there is nothing left to stay hidden.


Read More

Sunday, November 10, 2013

Hey, the Antidote!



It is relieving to have something different. I enjoy every time people narrow their eyes at me. It oddly brings me glittery feeling every time I put some furrows on their temples. I enjoy every difference. Someone told me being normal ain’t that bad, but I guess I’m really afraid of being normal. It often exiles me from the others, brings me unto somewhere means people’s fear – a fear called as solitude.

So I start it again. I promptly refuse every shitty shit. It is ridiculous for frankly saying, I have a feeling it already flies me unto the same rage, unto the same mourning. Maybe it should be the loud rustling in my ears – something to wake me up, kind of alarm to make me steady rational. But apparently – the antidote – it makes me feel that Meursault-Arab moment. A moment when the trigger gave before he just realized that there was something jugged his palm.

I adore that solitude. I don’t want to make some spaces from a place where I can find the power to resound what I want to shout. Maybe this one already creeps you out, maybe this one makes them thinking I can’t even be with one of them. But – the antidote – I’m fine with it. I’m fine when people let me get busy to live in my own solitude. The world with no unicorn or castle or prince or sound, the world where I can shoot everyone I want to shoot.

I feel like Sisyphus a lot. Punished to push that giant rock upon a mountain and every time it hits the top, it rolls down – insists me to push it just like the first and what the worst is, it repeats forever. Camus called it absurdity. I believe in it too. He told us he existed because he rebelled. Oh, I believe my mom will just kick me out of the family list because I nod over it – or perhaps she is already on it.

But hey - the antidote - maybe we indeed need to forge our own selves to fight against the world. Because we all know it, because we all know that since we were born – we have been followed by some instincts, some temptations to bring our own selves unto the death.  I’m dead when I’m being same, I’m dead when I leave my queerness. So that is why – the antidote – that is why I won’t let myself stop looking for some antidotes.

I wrote it with no music, just the sound of rain. The sound that made me lit my cigarette happily.
Read More

Sunday, October 13, 2013

Some Records

     
    • It was 24 July 2012. You texted me that it was my mistake because I came into your life so late. I texted you back, admitted that it was indeed my mistake then I thanked you because no matter how long I was late, you still let me in.
    • It was 3 November 2012. You texted me innocently, asked how my life had been. I took my breath, controlled my anger and replied it as the normal as I could.
    • It was 20 August 2013. I hadn’t heard your voice for a year. I missed you a little bit but had no clue. And you called me, told me how something shitty happened. Then it got me sure that no matter how long we had been separated, there would be a way for us to be reconnected.
    • It was 25 August 2013. It was midnight, I had no one to talk to. Then you called me and we talked like there would be no morning.
    • It was 12 September 2013. I got what I had dreamed of since I knew how to dream for the very first time. I had no one to celebrate it with. Then we met, hugged as the old best friends and owned that night by cigarettes and laugh.
    • It was 14 September 2013. I was happy and tired all at once. Suddenly you told me how you broke your life. I became beyond speechless, but you thanked me for calling.
    • It was 18 September 2013. All I wanted to do was just hug you after He answered my prayer just like what you asked me to pray for.
    • It was 27 September 2013. I blamed myself, threw everything I saw in my room and got afraid if God already left me. Later I thought why I couldn’t meet you that day.
    • It was 28 September 2013. He told me that he didn’t want to take anything further because of his horrible past. I felt so stupid because I insisted to fight against mine for him. Then I simply needed you.
    • It was 6 October 2013. I believed that the world fought against me. I talked to you, cried with no hope. You accepted me, even thanked God because of me and you just didn’t know how I thanked Him more because of you. Before I slept, I began to believe that we already fought against the world together.
    • It was 7 October 2013. We talked about God, His love and His plans for us. It was simply sweet. Then I decided not to lose a best friend like you anymore.

    "I thank my God every time I remember you." (Philippians 1:3 - NIV)

    Read More

    Sunday, September 29, 2013

    Dear Daddy,

    Is the past bigger than the future? I have the fucked up past. No needs to put any drama, but you completely understand the way they went away after they got "what they wanted" from me.
    Then someone just came. He made me happier, splashed bunch of glitter on my monochromatic days, he got me wonderstruck. 
    He hasn't been the same with them, something has made me respect him more. He hasn't meant perfectness, something has let me to love him more. He has kept his horrible past too, something has gotten me want to protect him more. He hasn't taken anything further because of it, something has trapped me more in my fucked up past.
    So Daddy, through all these shits - I wanna thank God for him. Unconditionally.
    Read More

    Monday, September 16, 2013

    Pesan Buat Kamu, Teman Terbaik


    Jadi, aku pun tak pernah menyangka kalau kita bakal berbicara tentang ini di jam-jam malam kita. Tentang hal yang menjadi ketakutanku, tentang hal yang bagimu masih terlalu jauh untuk dicapai. Rasanya seperti menelan ludah sendiri, memikirkan apa yang terlanjur kita persetankan – apa yang terlanjur kita sepelekan. Aku dengan ketakutanku, kamu dengan ketakutanmu. Lantas malam-malam kita menjadi tak biasa. Mungkin seperti orang tua yang bersiap menghadapi ajal, yang umurnya tinggal hitungan jari.

    Ada setumpuk keterbatasan belum terpecahkan yang membuatku tak mampu berada di sampingmu. Yang menghalangiku untuk menepuk pundakmu, memberikan pelukan terhangat untuk membunuh kalut dan dingin. Lantas kita menjadi bingung di titik bumi kita masing-masing. Merutuki hari-hari di belakang yang tak kita lalui dengan bijak. Menghina diri sendiri karena terlalu banyak yang kita persetankan.

    Ternyata terlalu banyak hal yang tidak kita pahami. Tentang sepenting apa seharusnya masa lalu, tentang seberharga apa seharusnya masa kini dan tentang semanis apa seharusnya masa depan. Senja ini, aku kembali kepada waktu yang sudah terlalu jauh kita tinggalkan. Saat ini ia tertawa licik. Menertawakan kebodohan kita, mengolok-olok kelabilan kita. Atas nama hidup yang tak akan terulang kita menerobos batas yang seharusnya tak pantas kita terobos. Lalu kita menyesal. Mengutuk diri sendiri, mempertanyakan apakah kematian bakal jauh lebih melegakan daripada ini semua.

    Mungkin seharusnya tidak perlu sampai seperti ini. Tapi entah karena kita memang tidak paham atau berpura-pura tidak paham, ketakutan itu terasa semakin nyata. Memang belum senyata waktu-waktu yang selalu menjadi kesayangan kita, rangkaian waktu saat kita membunuh bosan dan penat dengan menyingkir sejenak dari hiruk-pikuk yang memusingkan - mengagumi malam sambil berbicara tentang apa yang tidak pernah menjadi kita. Kamu tahu? Saat ini aku terlalu merindukan waktu-waktu itu. Saat kita berlagak menjadi yang terhebat, saat kita mengacuhkan masa depan yang tak pasti.

    Aku memang tak paham. Ketidakpahaman yang menyadarkanku bahwa ternyata kita tidak pernah menyingkirkan kemanusiaan kita. Mungkin tetap mensyukuri semuanya akan membuatku terlihat seperti manusia yang paling tidak tahu diri, mungkin kamu akan menganggap kalau aku tertawa atas kalutmu. Tapi apa lagi yang bisa kita lakukan? Di antara segala sesak karena aku tak bisa menggantikanmu, aku tetap melihat kita yang ternyata masih menjadi kita. Kita dengan segala kepasrahan untuk menjalani kodrat sebagai manusia yang terkadang harus diam dan menerima tanpa bersikeras untuk segera memahami.

    Mungkin kamu menganggapku menyerah atau acuh tak acuh. Tak mengapa, karena aku juga tidak ingin menjejalimu dengan segala harapan yang meninabobokan. Tapi saat kamu mulai sanggup merengkuh logikamu kembali, ingat saja kalau aku belum berhenti dalam menjaga agar kita tetap menjadi kita. Tak mengapa kalau kamu ingin berhenti sejenak. Karena aku paham kamu bukan berhenti untuk mengakhiri semuanya, hanya berhenti untuk mengambil nafas dan meregangkan saraf yang tertekan akibat ulah kita sebagai manusia muda.

    Dan ya, saat ini aku mengamini apa kata mereka. Kamu juga pasti masih mengingatnya, bahkan mulai memahaminya. Kata mereka dunia ini memang jahat dan kuat, tapi tenang saja karena kita akan mengalahkannya bersama-sama. Jadi malam ini kamu beristirahatlah, biar aku yang berjaga-jaga.
    Read More
    anggityamarini. Powered by Blogger.

    © Bittersweet Footy Script, AllRightsReserved.

    Designed by ScreenWritersArena