Wednesday, August 6, 2014

Mau

Aku mau berbagi cerita,
cerita sepulang kerja.
Kerja sehari semalam, seminggu dua minggu sambil menunggu ajal.

Aku mau menjelajah cerita,
cerita perempuan yang mengemis waktu.
Waktu yang tak bisa kembali walau ia sibuk memaki.
Memaki sampai mengantuk, mengantuk sampai tertidur pulas.
Pulas, sampai lupa untuk bercerita.

Aku mau memaki cerita,
cerita yang tak kunjung selesai.


Bandung, 6 Augustus 2014
Read More

Tuesday, July 29, 2014

Belakangan

Belakangan aku semakin merasa aneh. Aneh karena semakin menyadari kalau aku mulai jenuh menjadi orang aneh. Dulu aku selalu bangga saat dicap aneh, tapi akhir-akhir ini aku ingin hidup normal. Tak membutuhkan kejutan di sana-sini. Tak perlu yang aneh-aneh. Tak jarang pula aku mendapati aku yang gerah dengan orang-orang yang melihatku dengan aneh. Rasanya aku mulai muak dengan ambisi untuk menjadi orang yang benar-benar berbeda. Atau barangkali aku hanya menyadari kalau aku menjadi orang aneh yang dibuat-buat, berusaha terlalu keras untuk menutupi apa-apa yang sebenarnya tak pernah bisa aku dapatkan.

Belakangan aku semakin cepat muak. Aku muak saat berpikir soal tulisan, aku muak saat menulis. Muak pula saat menunggu tulisanku diangkat. Padahal aku sudah punya kolom sendiri. Padahal editorku bilang aku pantas punya akun di media sosial yang menjadi wadah para pembaca tulisan-tulisanku mengumbar puja-puji atau sekadar menyapa. Belum lagi pimpinan portal tempat aku menulis yang berkata kalau mereka beruntung memiliki penulis sepertiku. Ah, belakangan aku semakin sulit membedakan pujian dan olok-olok.

Belakangan aku ingin menyiram muka satu-dua-tiga orang dengan campuran cuka, garam, dan potongan cabai rawit. Aku muak juga. Entah apa salah orang yang tak mau kusebutkan namanya. Bolehlah mereka tak suka dengan tulisannya. Bolehlah mereka bilang buku yang berisi tulisan-tulisan lamanya sebagai sampah belaka. Boleh, toh, itu hak mereka. Bolehlah mereka bilang kalau subyektivitas itu tak ada. Kalau ada, tak akan mungkin ada penghargaan sastra. Tapi, bukankah satu orang dari mereka juga menulis buku yang serupa? Lantas, mengapa tak dibilang sampah? Tunggu, ini bukan perkara hutang budi. Ini hanya menyoal aku yang mulai meragukan frasa "adil sejak dalam pikiran" yang termahsyur itu.

Belakangan aku sering bertindak konyol. Bermain perasaan dengan laki-laki yang usianya lebih muda tiga tahun, tidak suka membaca, tidak tertarik pada sepak bola, tidak pernah berharap untuk bisa menulis. Laki-laki yang seperti laki-laki lainnya. Menyukai sepatu bermerek, pekerja kantoran, suka pening bila melihat perempuan cantik, lupa daratan jika sedang mengulik lagu. 

Belakangan aku semakin sering mengkhianati kesepakatan yang kubuat dengan diri sendiri untuk tak bermain-main dengan laki-laki membosankan seperti itu. Melupakan mereka yang menulis, tergila-gila pada sejarah, menggilai pesona sepak bola, mengacuhkan mobil-mobil mewah lantas memberikan perhatian lebih kepada buku-buku langka. Bahkan, belakangan aku semakin tak bosan pada herosime tahi kucing. Membelanya mati-matian, mengusahakan apa-apa yang paling baik buatnya.

Belakangan aku semakin merasa tak nyaman. Belakangan aku semakin sering rindu. Ah, sontoloyo.

Read More

Saturday, May 3, 2014

Sembilan: Tentang Buku-Buku yang Kubaca - Tiga yang Pertama

Tidak semuanya buku baru, bahkan di antaranya ada beberapa yang kubaca ulang. Sekadar rindu sambil sedikit menguji apakah pendapat pertama sama dengan yang kedua. Jadi, ini adalah tiga yang  pertama dari sembilan buku yang belakangan aku selesaikan – selesai kubaca tentunya - nanti, kapan-kapan, akan kutulis sendiri bukuku.

1.    Lorca: Memoar Penjahat Tak Dikenal – Sihar Ramses Simatupang

Kata mendiang Pram tentang buku ini; “Berbobot! Karena isinya sarat dengan kejadian, tidak mengada-ada. Bobotnya pada perjalanan pribadi, tidak kosong, belajar pada lingkungan hidup. Juga tidak menarik kesimpulan sembarangan!”

Jujur saja, kalimat mendiang Pram ini yang mendorongku untuk membeli buku yang satu ini saat menghadiri bazar buku di Perpustakaan Kota Kediri. Waktu itu aku masih tinggal di Kediri. Demi apapun, aku rindu nasi pecalnya! Pikirku waktu itu; “Siapa Sihar ini?” Namanya pun belum pernah kudengar. Ah, dungunya.

Ia bercerita tentang Lorca dan mengambil latar kehidupan wilayah Indonesia Timur yang keras. Seperti berada di sarang mafia. Kehidupan yang tak lazim, yang pikirku hanya ada di film-film. Tunggu, tentu saja ini kisah fiksi.

Jadi, Lorca adalah laki-laki yang mungkin menjadi penjahat kelas kakap karena memang dididik untuk menjadi penjahat. Bukan didikan laiknya sekolah-sekolah formal. Ia dididik oleh keluarganya yang tak mau tahu dengan dia dan saudara-saudaranya, ia dididik oleh egosentris orang-orang. Yang penting dirinya sendiri, masa bodoh orang lain mau mati atau hidup. Pikirku, itu latar belakang psikologis yang ada dalam buku ini. Ada miris yang tak dibuat-buat saat membaca bagaimana Sihar menggambarkan tokoh Lorca. Namun di atas segalanya, ada semacam hal tak kasat mata yang membuatku mengutuki apapun yang aku anggap menggangguku waktu itu.

Bukannya berusaha menjadi satu dengan cerita di dalamnya. Ketahuilah, buatku kalau hal itu terjadi, aku pikir tak akan ada tindakan yang lebih hiperbolis jika dibandingkan dengannya. Namun perihal membaca, tak ada kenikmatan yang melebihi nikmatnya membaca buku dengan latar peristiwa yang mirip. Aku bilang mirip karena bukan bentuknya yang sama, tapi prinsip.

Jadi, aku ikut merutuk; “Mampus,” saat membaca bagaimana Lorca menghabisi nyawa sejumlah orang. “Jancuk,” saat membaca bagaimana Lorca meninggalkan mantan pengemis yang menjelma menjadi pelacur – perempuan yang sebenarnya menjadi cinta pertamanya waktu remaja. Aku ikut bergidik ngeri bercampur jijik saat membaca bagaimana Lorca dan pelacur tadi bersenggama, mempersetankan nanah, keringat dan apapun yang menjadi bagian dari diri mereka kala itu.

Jika salah seorang kritikus sastra meyakini bahwa novel ini adalah cerita tentang dunia maskulin, bagiku lebih dari itu. Buatku ini cerita tentang dunia manusia. Manusia yang sebenar-benarnya. Manusia yang terkadang memutuskan untuk menjadi keji karena tak mau lagi diperlakukan keji oleh hidup. Aku juga berpikir, jangan-jangan Lorca dan kehidupannya adalah potret nyata tentang secuil bagian dari yang disebut-sebut oleh mendiang Pram sebagai Bumi Manusia.

Mungkin nama-nama tokoh atau gambaran kejadian yang ada di dalamnya tak seperti yang kerap kita lihat di negeri ini. Tapi pikirku, inilah kelemahan imajinasi atau bahkan, kelemahan tulisan-tulisan populer yang belakangan menyerbu dunia sastra negeri ini.

Selayaknya karya fiksi, tentulah imajinasi berperan di dalamnya. Namun terpikirkankah oleh kita bahwa ada kejadian-kejadian yang memang tak tertangkap publikasi, yang tak tertulis dalam sejumlah karya?

Aku pikir Lorca adalah tentang hal-hal ini. Di satu sisi, ia membawaku kepada dunia imajinasi yang tak terpikirkan sebelumnya. Namun di sisi lain, ia begitu menyadarkanku dari rayuan dan nina bobo sastra-sastra populer. Karya-karya di mana penulislah yang dikendalikan oleh tokoh-tokoh yang diciptakannya. Mereka membiarkan diri saat tokoh-tokoh tadi memaksa mereka untuk menghindari absurditas. Mereka pasrah-pasrah saja saat digiring oleh hantu berwujud ketakutan tak ada yang mau membaca tulisan mereka.

Sebagai catatan, beberapa hari setelah membaca buku ini, aku berbincang secara virtual dengan Sihar. Aku memanggilnya dengan sebutan Bang Sihar. Dalam percakapan kami, dia sendiri terheran-heran mengapa aku bisa sampai membeli dan membaca buku ini. Pertanyaan yang justru membuatku tak kalah heran. Pikirku, mana ada penulis yang heran saat orang lain membaca karyanya. Ternyata, Bang Sihar mengaku kalau penerbitnya sendiri pun tak mempublikasikan buku ini. Tak niat, pikirku. Tak heran pula saat menyadari bahwa proses penyuntingan tulisan tak dilakukan dengan sempurna. Ada banyak kesalahan penulisan yang luput begitu saja. Gila! Aku pikir ini benar-benar gila - kegilaan yang pada akhirnya semakin meyakinkanku bahwa terkadang, kualitas memang tak sudi berjodoh dengan popularitas.


2.    Kitab Omong Kosong – Seno Gumira Ajidarma

Hal tersulit dalam membaca buku ini adalah melepaskan diri dari prasangka. Sejak awal – tepatnya sejak pertama kali membaca tulisan Seno - aku langsung menganggapnya sebagai laki-laki paling romantis seantero negeri. Lantas, tujuan awalku membaca buku ini bukan untuk menikmati romantisme. Jujur saja, sebelum membaca buku ini aku sedang muak-muaknya dengan romantisme – apapun bentuknya. Yang kutakutkan dan sebisa mungkin kuhindari adalah; menutup  buku dan menyimpannya kembali ke dalam rak karena muak. Menjadi satu dengan buku-buku yang aku putuskan untuk tidak kubaca sampai habis karena perasaan yang sama. Semacam perasaan yang di satu sisi menyadarkanku bahwa aku memang seorang pembaca yang buruk, karena tak bisa berjauh-jauhan dengan prasangka.

Namun pada akhirnya aku setuju kalau Seno tetaplah Seno. Ia menjadikan romantisme sebagai penyangga yang kokoh bagi keliaran dan absurditas imajinasi. Buku ini adalah Ramayana milik Seno. Ia sukses bermain-main dengan cerita pewayangan yang melegenda. Ia tak gagal dalam merangkai imajinasinya dengan relevansi historiografis. Namun di atas segalanya, pikirku, ia berhasil menertawakan apa-apa saja yang menjadi kebanggaan banyak orang.

Maneka adalah tokoh sentral dari Kitab Omong Kosong. Perempuan yang sedari kecil dititipkan oleh ayahnya di sebuah rumah bordir. Punggungnya telah berajah kuda semenjak lahir. Rajah yang diyakini banyak orang sebagai kutukan yang tak main-main. Sumber keonaran, biang kerok dari segala malapetaka. Setiap malam, kuda itu akan keluar dari punggung Maneka. Berlari ke seantero negeri dalam wujud Persembahan Kuda dari Kerajaan Ayodya yang dipimpin oleh Sri Rama.

Rasanya ingin menghajar Sri Rama, rasanya ingin menjambak rambutnya lalu meludahinya sampai mampus. Tentu saja ini adalah efek yang muncul saat membaca Sri Rama yang menjadi buah pikir dan khayal seorang Seno Gumira. Kontradiksi Sri Rama. Jika selama ini keberadaan Sri Rama dianggap sebagai keberadaan juruselamat yang akan memusnahkan semua kejahatan – dalam kitab ini, Sri Rama tak ubahnya pria pengecut, penuh prasangka buruk, gila kekuasaan dan labil yang rela melakukan apapun asalkan ia tetap terpandang sebagai raja. 

Keberhasilan Seno tak hanya melulu soal Sri Rama. Ia juga berhasil menciptakan Walmiki, sang pencerita Ramayana. Lucunya, Walmiki lah yang dihakimi oleh tokoh-tokoh ciptaannya. Satu persatu, tokoh-tokoh ciptaannya pamit, undur diri dari kisah Ramayana yang diceritakannya di sepanjang hidup.

Apa-apa yang digembar-gemborkan sebagai kebenaran, sejatinya ia adalah omong kosong belaka. Pikirku, ini yang menjadi gagasan utama Seno. Kebenaran tak butuh hiruk-pikuk, tak menjadi satu dengan hingar-bingar, ia adalah karib dari keheningan. Setidaknya, aku pikir, ini adalah kesimpulan yang aku tarik selesai membaca kisah Maneka dan Satya, laki-laki muda yang menolong Maneka dalam pelariannya. Mereka berdua memburu kitab yang diyakini sebagai sumber segala pengetahuan, yang bernama Kitab Omong Kosong yang terbagi menjadi lima bagian terpisah. Dunia Seperti Adanya Dunia, sebagai kitab pertama. Dunia dalam Pandangan Manusia dan Dunia yang Tidak Ada sebagai kitab kedua dan ketiga. Kitab keempat berjudul Mengadakan Dunia. Dan kita kelima, kitab yang paling menciutkan nyaliku adalah, Kitab Keheningan.

Seno menamparku. Ia bercerita tentang perjuangan dua anak manusia dalam mengejar ilmu pengetahuan, pikirku, tentu ini bertolak belakang dengan kecenderungan manusia yang lebih gemar mengejar pemuasan nafsu. Namun, ini bukan tamparan yang sebenarnya. Karena pada kenyataannya, ilmu pengetahuan itu pun tak jarang diperalat oleh nafsu. Ia meninggalkan elegansinya dan berubah menjadi perihal yang kampungan. Orang-orang menjadi sombong karena ilmu. Saling menghabisi karena dipenuhi nafsu untuk mencari ilmu, mereka pikir, dengan menjadi orang yang berilmu mereka akan sanggup menguasai apa yang ingin mereka kuasai. Dan bukankah kita juga seperti itu? Jika pada awalnya pengetahuan digunakan untuk saling menghidupi, belakangan justru digunakan untuk saling mematikan. Berdebat tentang lingkar otak, berseteru tentang siapa yang paling benar, merendahkan yang dianggap tak pintar, menyombongkan jam membaca – ya, hal-hal semacam itu.

Lantas, kata Seno dalam Kitab Omong Kosong, semuanya adalah omong kosong. Buat apa meributkan omong kosong belaka? Lebih baik menjadi hening, bukan diam – tapi, hening.


3.    Rahwana Putih – Sri Teddy Rusdy

Kata beberapa orang, aku ini Batak murtad. Lancar berbahasa Jawa – walau bukan kromo – tapi tak paham bahasa Batak. Menikmati masakan Jawa, tapi tak suka masakan Batak. Ditambah lagi, aku juga cenderung tertarik pewayangan. Ya, masa bodoh. Namanya juga pendapat. Nde’pikir karo mlaku ae.

Rahwana adalah tokoh pewayangan yang kerap digambarkan sebagai rajanya kegelapan. Ia begitu pekat, begitu kejam, begitu marah. Ia memiliki banyak wajah yang aku anggap sebagai potret-potret kejahatan. Kedurjanaannya begitu mutlak. Namun, buku ini adalah sebaliknya. Ia mengapresiasi Rahwana. Menggambarkan bagaimana sudut pandang Rahwana.

Dalam buku ini, Rahwana tak berjuang untuk membuktikan bahwa sebenarnya ia adalah sebentuk sosok yang putih. Ia tetap mengakui bahwa ia pribadi yang hitam. Ia tak takut menjadi hitam, ia teguh pada citra gelapnya lantas berkata demikian; “Tapi aku membawa kesetaraan pada kegelapanku, pada pekatku tak ada lagi rona kemunafikan. Aku legam tak bisa dirusak oleh warna apapun, baik duka maupun sesal.”

Rahwana adalah biang keonaran. Ia adalah sumber malapetaka. Kata orang-orang seperti itu. Namun di antara segala gonjang-ganjing argumentasi manusia, ia adalah penghayat kehidupan yang diberikan Pemberi Hidup. Katanya begini; “Sejarahku bukanlah rangkaian huuf-huruf yang tertulis atau susunan kata-kata yang tertutur tentang diriku. Sejarahku adalah gerak yang melintasi ruang dan waktu. Karena itu, segala tulisan dan tuturan tentang Prabu Rahwana bukanlah sejarah hidupku.”

Wajah Rahwana tak hanya satu. Semacam kemunafikan, kalau boleh mengira. Namun, perihal wajahnya yang tak hanya satu itu pun, ia berkata begini; “Wajah satu hanyalah selubung bagi manusia yang tak memiliki keberanian untuk menampakkan kesejatian wajahnya yang beragam.”Ah, siapa yang sebenarnya munafik?

Katanya, Rahwana tidak mencintai Shinta. Itu bukan cinta, tapi nafsu belaka. Ia tidak dibutakan oleh cinta, ia dibutakan oleh nafsu. Lantas menjadi gila, tamak dan tolol. Namun lagi-lagi ada yang berbeda, katanya seperti ini; “Pagi itu, sebagaimana pagi-pagi lainnya, Prabu Rahwana hanya berbekal cinta untuk menanyakan cinta kepada sang cinta.”

Pada dasarnya, membaca buku ini adalah kesenangan tersendiri buatku. Rasanya menyenangkan saat memiliki waktu untuk menjelajahi kejahatan yang diceritakan turun-temurun sebagai kejahatan yang sejahat-jahatnya. Dan di sepanjang penjelajahan itu aku pun menemukan kalau mungkin – ya, tentu saja mungkin, karena ini pun fiksi belaka – selama ini, kita saja yang merepotkan diri perihal kebaikan dan kejahatan. Lupa kalau sebaik-baiknya hal, ada juga jahatnya. Sejahat-jahat suatu hal, ada juga baiknya. Semacam mengiyakan perkataan Rahwana yang satu ini; “Akulah Sang Kegelapan, yang darinya lahir kesetaraan. Akulah Sang Kelam, yang memberi ruang bagi benderang untuk dipuja.”

Ya sudah, mati sajalah kau, Rama.
Read More

Saturday, April 12, 2014

Untuk Teman Virtual

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, menulis hal semacam ini pasti akan menjadi kekonyolan tersendiri buatku. Bukan apa-apa, tapi aku pun tak berbeda jauh dengannya.

Namun aku melihat ke belakang. Yang sudah-sudah, yang dulu-dulu. Dan kalau mau jujur sekaligus picisan, aku benar-benar bersyukur. Dulu semuanya tak terkendali. Bila ditanya siapa yang salah, tentu aku yang tak bisa memegang kendali.

Cerita-cerita soal hidup di jalanan, tak punya tempat pulang, meminum sisa minuman bersoda berwadah McDonalds yang dipungut di pinggir jalan untuk menahan lapar, terdepak dari bangku kuliah, mengerjakan pekerjaan buruh kasar dari pagi sampai hampir dini hari demi bayaran yang tak seberapa bahkan ditunggak - semuanya tak pernah menjadi dongeng buatku.

Aku tak pernah bangga. Aku malu semalu-malunya, karena kalau aku bisa memegang kendali, aku pikir aku akan menjadi lebih terhormat di mata orang lain dan mataku sendiri.

Jadi, pagi ini seorang teman virtual sedikit mengeluh tentang tumpukan pekerjaannya. Keluhan yang serupa denganku beberapa waktu belakangan. Jadi aku paham rasanya. Namun lucunya, keluhannya membuatku sedikit iri.

Tapi sebetulnya, bukankah itu yang kita harapkan? Keluhan menjadi salah satu pertanda kalau semuanya berjalan normal. Bukannya mau membanding-membandingkan, merasa kuat atau bijaksana. Tapi rasa-rasanya, penyebab keluhan semacam ini lebih baik jika dibandingkan cerita-cerita dulu. 

Namun sekali lagi aku paham. Dia manusia, aku manusia, kita semua manusia.

Jadi, teman virtual, membangkanglah sekali-kali. Tak perlu menjadi berandal. Membangkanglah barang sebentar saja. Satu atau dua jam, satu atau dua hari. Karena waktu yang sebentar itu akan membuatmu rindu pada apa-apa yang menjadi biang keluhmu. 

Namun di atas segalanya, teman, ingat-ingatlah semua yang baik, semua yang manis, semua yang sedap didengar - nanti kamu akan menyadarinya sendiri kalau sebenarnya kita semua tak pernah kekurangan alasan untuk berbahagia.

Bandung, 12 April 2014
Read More

Sunday, March 16, 2014

Gerald

Honestly, I thought to write it in Bahasa, but I was pretty sure that it would be something cheesy. You know how much I hate anything cheesy, though if we took the bigger guts, we had to say that we were also being cheesy.

So, how's life? It has been a little bit long time since we didn't have our talk hours. Our lives have been hectic in their ways. That's fucked up, but who are we to always deny anything fucked up?

I suddenly think of that last September, when life threw its shits on us. When we got insane at what we faced. I remember the night when we finally talked about God and His plans on us. I just couldn't believe it, after our dirty-punk-weird talk, we decided to think of what God exactly wanted from us.

I think of some "what ifs". What if we didn't attend the same church? What if we didn't throw some comments on Facebook? What if we didn't go to different cities? What if we didn't decide to be friends?

Well, I guess that would be no this weird friendship story. I guess I wouldn't have a mate who sang me New Found Glory's Too Good to Be by phone, though it sounded a little bit - sorry - horrible. For God's sake, you have to admit that you don't have the brilliant voice.Then I guess I wouldn't have a man who emailed me a reminder to keep going to the church every Sunday. And maybe, I wouldn't read a tweet about how blessed yourself because of me. Yea, me. The fucked up me.

So, can I stop it before getting worse? Just take a really good care there. I miss you even more, I love you even bigger - as a mate, absolutely. I will never ever get crush on you, noted it.

Read More

Tuesday, February 18, 2014

Abang

Papa, aku punya seorang abang - tapi tak sedarah dengan kita. Ia tak pernah menendang-nendang perut mama dari dalam rahim yang ukurannya pun aku tak tahu. 

Aku bertanya macam-macam padanya, ia juga menjawab macam-macam. Kami bercerita ini dan itu, tertawa-tawa sambil sesekali mengisyaratkan kecewa pada sederet nama.

Papa, sudah lama aku tak berbicara dengan abang. Abang yang asli, yang sedarah dengan kita. Aku tak pernah rindu dia, besok-besok kami juga pasti bertemu. Sekarang kubiarkan saja dia sibuk dengan apa yang dikerjakannya. Toh, mau senyaring apapun suaraku juga tak akan didengarnya.

Sebentar lagi abang yang tak sedarah dengan kita itu akan punya anak kedua. Akan kubelikan buku dongeng, supaya nanti kalau sudah besar dia tak akan kaget mendengar omongan orang-orang yang tak ada habisnya. Supaya nanti kalau sudah besar matanya tak lagi mengerjap-ngerjap penuh harap pada kilau tawaran dunia.

Papa, berkenalanlah dulu dengan abangku yang satu ini. Meskipun tak memanggilmu "papa", tapi ia satu-satunya yang bilang; "Oalah, cepat sembuh ya," padaku.

Bandung, 18 Februari 2014
Read More

Saturday, February 15, 2014

60

Tadinya, aku juga tidak paham apa artinya 60. Angka 6 dan 0 yang diletakkan berdampingan, jadilah 60. 

Menurut numerologi yang entah apa maksud dan tujuannya, 60 itu berarti ibu dari segala angka. Angka yang berarti simbol dari prinsip mengemong, kepedulian. Katanya, 60 itu angka yang bekerja dan membangun, tugasnya menjaga harmoni.

Jenius-jenius teologi itu juga bilang kalau ada unsur manusia dalam 60. Angka 6 sering mereka terjemahkan sebagai angka manusia. Ingat ayat Alkitab kalau manusia diciptakan pada hari ke-6, bukan? Omongan mereka aku lanjutkan dengan melihat 0. 0 berarti kosong. Kata Tong Som Cong, kosong adalah berisi. Berarti 60 itu manusia kosong tapi ada isinya. Mungkin begini. Sejatinya, manusia itu tak ada apa-apanya, tapi bukan berarti ia tak bisa melakukan hal-hal yang bermakna.

Kalau ini omongan cendekia-cendekia Muslim. Kata mereka, saat berusia 60 tahun, Nabi Muhammad melaksanakan Haji Wada' yang disertai puluhan ribu umat Muslim dari entah berapa banyak suku dan kabilah yang telah memeluk Islam. Ia berangkat dari Madinah pada hari Sabtu tanggal 25 bulan Dzulqa'adah tahun ke-10 Hijriah. Aku pernah membaca kalau mereka meyakini bahwa tahun ini adalah tahun kemenangan Nabi Muhammad dan umat Muslim, pasalnya, di tahun ini mereka bisa melaksanakan ibadah haji dengan aman dan damai.

Astrologi Cina juga melihat peristiwa tadi lewat kacamatanya. Kalau tidak salah, ini bertepatan dengan tahun 631 Masehi, yang dalam kalender Cina berada dalam pengaruh shio kelinci berunsur logam emas. Mereka bilang dalam astrologi Cina, ini hanya terjadi dalam siklus 60 tahunan. Konon, orang akan memasuki tahun di mana shio dan unsurnya sama dengan shio dan unsur sewaktu mereka dilahirkan.  

Ah, membicarakan 60 saja sampai serumit itu. Dasar manusia-manusia kurang piknik! Itu istilah yang aku kenal dari Mas Zen, lengkapnya Zen Rachmat Sugito. Kamu tak perlu mengenalnya, dia hanya orang aneh yang mengingatkanku untuk selalu berpikir. Kurasa dia pun bukan orang yang menulis untuk dikenal di sana-sini. Mungkin di antara sekian banyak orang yang mengaku mengidolakan mendiang Pram, dia adalah bagian dari segelintir orang yang paham kalau seandainya mendiang Pram masih hidup - ia pun akan gulana sendiri melihat riuhnya gembar-gembor pengidolaan itu. Pram tak mau jadi idola, itu yang aku yakini. Tapi tunggu, sepertinya aku pun jadi kurang piknik.

Buatku, 60 itu sederhana saja. Ia memang angka biasa. Tapi terkadang hal-hal biasa juga jago dalam mengingatkan hal-hal tertentu.

Kamu tahu? Buatku, 60 itu berarti 15 tahun kita. Kita di sini tentu saja aku dan kamu. Aku yang membandel dan nekat melamar pekerjaan sebagai asisten manajer keuangan walau tak mahir menyembunyikan ke-4 tatoku. Aku dengan segala kedegilan yang tak mempedulikan "merokok membunuhmu". Aku yang menjadi tegar tengkuk tak mau berhenti menumpahkan kata demi kata di atas kertas - baik kertas secara harafiah, maupun kertas-kertas elektronik yang baru kelihatan wujudnya bila aku sudah mengisi paket internet bulanan. 

Tentang kamu, ya kamu. Kamu yang membuatku bertanya-tanya tentang apa yang sedang kamu terima sekarang, bahagia atau siksa. Hey, aku harap bukan kemungkinan yang terakhir. Kamu ya kamu, siapa lagi? Orang yang mengajariku tentang perasaan maha kurang ajar lagi memuakkan bernama rindu, yang teramat mahir membuat lidahku tak lagi terbiasa untuk mengucap kata "papa".

Ya sudah - bagaimanapun kamu sekarang - selamat jadi 60 tahun, Pa. Ternyata kamu dan Sócrates Brasileiro Sampaio de Souza Vieira de Oliveira dilahirkan pada tanggal yang benar-benar sama. Maaf karena aku tak menyimpan fotomu, maaf karena aku tak lulus kuliah.

Bandung, 19 Februari 2014




Read More

Saturday, February 1, 2014

Untuk Dua Perempuan

Hey perempuan pertama,

Datang juga harinya. Hari di mana kamu merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi seorang ibu, mama, bunda atau apapun namanya. Kamu masih kuat, bukan? Ah, pertanyaan bodoh. Aku tahu tak akan kamu jawab dengan "aku masih kuat". Aku tahu kamu akan menjawabnya dengan "aku semakin kuat".

Kalau boleh jujur, hari ini aku membayangkan rasanya menjadi kamu. Tapi nyatanya aku tak sanggup. Mungkin terkadang hal yang berkodrat untuk dirasakan memang tak berjodoh dengan dibayangkan. 

Sore ini aku kembali menggauli kopi pahit yang menjadi kesukaanku. Pekat sekali. Lucu juga waktu menyadari kalau aku bisa begitu menyukai cairan sepahit dan sepekat ini. Tapi kamu tahu, RW, pahitnya kopi selalu ampuh untuk menghilangkan kantukku. Gejala biologis kurang ajar yang tak jarang membuatku tak teliti dalam menuliskan sebuah kata dan terlambat dalam mengejar tenggat waktu pekerjaan. 

Oh, bukan. Aku bukannya akan memetaforkan pahitnya kopi dengan kalimat-kalimat moralis semacam itu. Aku pun muak dengan moral, RW. Muak sekali. Aku tak akan melanjutkan cerita kopi tadi dengan kalimat "rasa pahit itu akan membuatmu terjaga dan tak jatuh dalam kesalahan masa lalu". Sepahamku, RW, kamu adalah perempuan tangguh yang percaya bahwa kehidupan adalah hak bagi siapapun. Termasuk bayi cantik yang tadinya bersemayam dalam tubuhmu itu. Kamu menantang malu, menghajar tragedi dengan berani. Tak peduli langkahmu yang terseok-seok, kamu tetap melawan bandit-bandit itu walau tak berbekal senjata canggih. 

Yang mau aku sampaikan, sama seperti pahitnya kopi tadi, pahit dan pekat yang kamu rasakan akan membuatmu tetap terjaga. Lantas sanggup melihat dan merasakan sendiri cinta dari orang-orang yang bahkan belum pernah kamu dengar namanya.

Kamu mau membaca pengakuanku? Aku tak pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Merasa pantas pun tidak. Aku perempuan yang gagal menjaga ini dan itu. Tapi, RW, sekarang kamu adalah seorang ibu. Benar-benar seorang ibu. Setahuku, ibu itu begitu mulia. Sepahamku, cinta itu berpihak pada sebentuk kemuliaan.

Jangan pernah takut apalagi jijik dengan cinta, RW. Buat apa? Toh, Tuhan sendiri yang berkata kalau cinta itu tak pernah gagal - karena cinta itu adalah Tuhan sendiri.

Kamu, RW, berbahagialah dengan segala cinta yang kamu dapat dari orang-orang yang tak peduli dengan nama lengkapmu - orang-orang yang tak peduli seperti apa wajahmu, orang-orang yang peduli bahwa kamu adalah manusia yang tak pantas diinjak-injak oleh apa dan siapapun.

Jadi, sekarang istirahatlah, kadang kebahagiaan itu membuat lelah. Selamat menjadi seorang ibu, selamat berbahagia dan membahagiakan. Peluk, cium dan cinta untukmu.


Hey perempuan kedua,

Aku penasaran dengan tangis pertamamu. Kalau aku ada di sana, mungkin aku akan segera berlari ke toilet. Ikut menangis di dalam bilik yang aku kunci pintunya. Aku tak berharap kalau tangisanmu akan serupa genderang perang di telinga moralis-moralis palsu itu. Aku berharap tangisanmu serupa nyanyian merdu yang menyejukkan telinga mereka yang diinjak-injak atas nama moral. Telinga-telinga yang sebenarnya juga merindu ketulusan dan nihilnya ucapan pura-pura.

Kita sama-sama perempuan. Suatu saat kamu akan ikut mengamini kalau menjadi perempuan itu tak mudah. Dikekang sana-sini, dijadikan boneka atas nama moral, agama, etika bahkan yang paling memuakkan, kebaikanmu sendiri. Nanti, kamu akan melihat seperti apa hidup itu. Tak semenyenangkan dongeng-dongeng pengantar tidurmu. Tapi kamu juga harus tahu, hidup itu tak semurahan kepalsuan mereka yang menghakimimu. Jadi berbahagialah karena kamu sudah menerima kehormatan bernama kehidupan.

Apa kata-kataku menakutimu? Jangan takut. Hidup itu memang kurang ajar, tapi kamu tak perlu menjadi kurang ajar untuk menghadapinya. Jadilah kuat dan berani. Dengan menjadi demikian, segala kekurangajaran itu akan ciut nyali dan takluk padamu. 

Kamu, bayi perempuan yang baru lahir, kamu lahir dengan begitu banyak cinta. Cinta yang membuat orang-orang tak perlu tahu namamu untuk ikut mendoakanmu. Aku dan mereka tak perlu hafal bentuk wajahmu untuk ikut menjagamu, tak perlu menjadi sedarah denganmu untuk ikut berbahagia atas kehadiranmu.

Kamu, bayi perempuan yang baru mengeluarkan tangisan pertamamu, kamu itu begitu murni dan ibumu begitu mulia. Kalian perpaduan sempurna yang menjadi bukti tentang sehebat apa cinta yang tak bersyarat itu.

Sekarang sudah malam. Kamu tidurlah yang nyenyak. Semoga nanti aku, kamu dan ibumu bisa menghabiskan sore dengan minum kopi bersama. Tapi sekarang kamu jangan minta kopi, susu adalah yang terbaik untukmu. Dan kalau kita bertemu nanti, berjanjilah kamu tak akan memanggilku tante. Aku tak suka, rasanya terlalu tua. Panggil Marini saja, itu namaku. Atau kalau kamu mau, Incun juga boleh. Itu panggilan aneh yang jadi kesayanganku. Nanti aku akan mengajakmu menonton sepakbola, kita akan bersenang-senang. Saranku, jangan mau menjadi penggemar AC Milan sepertiku, itu klub yang payah - tapi entahlah nanti.

Jadi, selamat datang ke dunia. Peluk, cium dan cinta untukmu.

Bandung, 1 Februari 2014
Read More

Friday, January 31, 2014

Kami, Pukul Lima Sore

Mereka itu teman-temanku, tapi kau diam saja.
Jangan bilang orang lain, nanti mereka berkhotbah
sampai mulutnya berbusa-busa. Capek aku mendengarnya.

Kata mama, dulu papa mati karena teman-temanku itu.
Lalu dia menangis meraung-raung,
tak berhenti-berhenti sampai dua tahun.

Setiap sore aku bersama mereka.
Kami diam saja; tanpa suara.
Buat apa bersuara? Toh, mereka pun tahu kalau suaraku sumbang.

Yang aku lihat, suara itu hanya milk yang rupawan.
Kalau aku yang bersuara, nanti bakal diarak lagi keliling kampung,
seperti orang gila. Sudah dihina, dilempari pula.

Cih.

Sebentar lagi pukul lima, kau pulang sajalah.
Teman-temanku sudah mau datang, nanti kau jijik.
Karena biasanya mereka akan berubah jadi abu dan ampas.

Kalau aku jadi apa, katamu?
Jawablah sendiri, kau kan pintar.

Bandung, 31 Januari 2014
Read More

Sunday, January 26, 2014

Menulis yang Kamu Sampaikan



"Biarkan sejarawan mereka yang menulis, kalau aku yang menulis, terkesan bukan ranahnya.  Itu saja.”


Kalimat ini muncul pada fitur pesan singkat ponselku. Nama pengirimnya namamu. Kubaca sekali dua kali, kututup fiturnya. Kubuka, kubaca tiga empat kali. Kututup. Begitu selama lima sampai enam menit. Di menit ketujuh dan delapan aku mencoba mempersetankannya, tapi gagal. Jadi kuputuskan untuk menyimpan pesanmu itu. Di tempat tersembunyi, supaya tak terbaca orang lain. Tapi kalau dipikir-pikir, dibaca orang lain pun tak apa-apa. Toh, mereka tak tahu siapa namamu. Toh, mereka tak paham seperti apa kamu buat – ah, tak perlulah kutulis buat siapa.

Seorang penulis pernah berbicara seperti ini. Urusan pembaca adalah mengekalkan ingatan pada apa yang mereka sukai. Sebaliknya, urusan penulis adalah menghapus ingatan dari apa-apa yang sudah ia bikin. Entah id, entah ego – yang jelas, ada iming-iming akan kenikmatan menjadi pengadu pikiran. Pengadu pikiran lewat permainan kata dan pendiktean makna, yang konyolnya hanya menghidupi penalaran dengan menjadi seorang penyembah selera. Kalau kataku, tuhan yang ia ciptakan sendiri.

Percaya saja kalau aku tak tertampar dengan pesan singkatmu tadi. Aku hanya berpikir, kalau sejatinya kita sering berdebat atas dasar yang lemah. Mungkin sebenarnya tak ada perbedaan pendapat. Kita tak pernah benar-benar paham berpendapat karena sebenarnya kita tak pernah bergaul karib dengan dasarnya. Yang ada hanya perbedaan selera. Lantas menyembunyikan selera di balik logika. Dan apalah muara dari urat leher yang menegang dan tangan yang kaku tanpa kepala yang dingin? Aku pikir, kesia-siaan belaka. 

Tapi jangan kamu pikir aku menganggap kalau memiliki selera itu salah, apalagi meyakini kalau menjaga selera itu tak berbeda dengan menghidupi sebentuk laknat. Bukan seperti itu. Mungkin yang salah hanya kita yang menempatkan selera bukan pada ranahnya. Meyakini kalau kebenaran dan selera bisa bermukim pada tanah yang sama.

Ah, aku pikir aku tak perlu berpanjang-panjang di sini. Kata temanku, terkadang kata bisa mempersingkat makna. Jadi, tolong sampaikan salamku pada Mba Rita, juragan pomade itu. Bilang padanya, aku tak sabar makan es krim di Ragusa. 
Bandung, 26 Januari 2014
Read More

Tuesday, January 21, 2014

Kopi dan Yang Terpenting

Aku ingat cerita sekitar empat belas tahun lalu. Waktu itu aku masih bersekolah di kelas satu sekolah menengah pertama. Mendiang papa memintaku untuk membuatkannya kopi sebagai sajian pulang kerja. Aku menurut saja, tanpa memperdulikan takaran seberapa banyak kopi, seberapa banyak gulanya. Bukannya tak pernah mempertanyakan seberapa manis atau seberapa kental kopi yang menjadi seleranya. Katanya, ia tidak peduli dengan hal-hal semacam itu. Buatnya yang terpenting, kopi itu tidak diseduh - tapi direbus bersamaan airnya. Kata papa, rasanya bakal lebih nikmat. Aromanya juga lebih harum. “Dek, yang terpenting bukan rasa pahit atau kekentalannya, tapi matang atau tidaknya.”

Mana aku tahu apa enaknya kopi waktu itu. Aku pernah mencicipinya. Kubilang padanya rasanya tak enak. Dia tersenyum saja. Kalau dia masih hidup sampai hari ini, mungkin dia bakal menjadi teman minum kopi terbaik. Tidak selalu menyenangkan memang. Tapi sama seperti dia yang selalu menjadi tempat aku melihat tidak perduli seberapa tinggi aku tumbuh, rasa-rasanya kalau saja bisa terjadi – acara minum kopi kami akan seperti itu.

Aku ingat tentang pesan singkat yang aku terima pada 24 Juli 2012. Dari sahabat. Dia laki-laki yang menyenangkan sekaligus menyebalkan. Tapi jangan tanya seberapa besar aku menyayanginya. Aku pernah mencoba mengira-ngira tentang ukuran rasa sayang itu. Pada akhirnya, aku tak perduli. Sama seperti mendiang papa yang tak pernah perduli dengan takaran kopi dan gulanya.

Pesan singkat itu aku terima di tengah-tengah jam kerja yang memuakkan. Isinya seperti merengek, seperti mengadu. Dia bilang, dia ingin minum kopi dan merokok bersamaku. Ingin tertawa-tawa, butuh semangat – katanya. Lantas dia menyalahkanku. Katanya aku terlambat datang ke kehidupannya.

Kalau aku pikir-pikir benar juga, kami berdua baru menjadi akrab di hari-hari menjelang kepindahannya ke pulau lain. Jujur, menyesal juga karena aku tidak mengenalnya dari dulu. Tapi kujawab begini saja; “Kalau aku memang datang terlambat di kehidupanmu, itu memang salahku. Tapi yang terpenting, aku datang dan kamu tetap menerima tanpa perduli seberapa lama keterlambatanku.” Dia tak membalas, tapi aku yakin dia juga setuju.

Malam hari tanggal 10 Januari 2014, aku menemukan paket di depan pintu kamar kosku. Begitu aku buka, ada kopi di dalamnya. Pesan yang diselipkan di dalamnya sudah pernah aku tulis. “Katanya, kopi itu seperti hidup. Pahit, tapi harus tetap dinikmati. Well... Selamat berbahagia – dengan kopi!!” Aku memang aneh. Waktu pertama kali membacanya aku sedikit menyayangkan kata “well”. Waktu itu aku pikir, kalau Bahasa Indonesia ya Bahasa Indonesia saja. Buat apa dicampur-campur?


Tapi malam itu aku baru saja menolak apa yang aku pikir sebagai hal yang aku mimpi-mimpikan dalam sepuluh tahun belakang. Malam itu aku baru saja menolak untuk meninggalkan hal yang sebenarnya memberikan banyak kebahagiaan buatku demi sebuah nama besar. Apa yang aku tolak adalah hal yang sebenarnya tak buruk. Hal yang sanggup membuatku paham dengan standar ini dan itu. Mungkin aku akan menjadi pintar, mungkin akan ada banyak orang yang melihat apa yang aku buat bersama mereka. Tapi buat apa kalau aku kehilangan kebahagiaannya? Memang bodoh, namun aku juga mempertanyakan pintar itu seperti apa. Lagipula, buat apa pintar kalau tak bahagia?

Jadi setelah memikirkan hal-hal remeh seperti itu, aku tak ambil pusing lagi dengan bahasa campur aduk tadi. Yang terpenting aku senang saat menerima dan membacanya. Yang terpenting, aku punya tulisan tangannya. Kesenangan yang aneh memang, tapi apa boleh buat karena memang seperti itu.

Pagi ini aku meneguk kopi pagiku sambil menikmati rokok kesukaan. Kalau dipikir-pikir, belakangan aku mulai jarang menulis. Jam kerja yang padat dan beban kerja yang menumpuk benar-benar menguras energi. Saat energi benar-benar terkuras, menulis pun bisa menjadi ketakutan. Bagaimana kalau otakku tak sanggup berpikir? Bagaimana kalau hasilnya tak logis? Bagaimana kalau tak ada isinya? Bagaimana kalau aku hanya menulis emosi? Bagaimana kalau tulisanku gagal?

Air untuk kopi pagi ini aku rebus dengan pemanas listrik. Rasanya tak seenak kalau dimasak dengan kompor apalagi tungku kuno. Tapi pada kenyataannya aku tetap meneguk kopi pagiku dengan segala kenikmatannya yang tak sempurna. Karena yang terpenting, kopi panasnya tetap ada. Karena yang terpenting, hal yang terpenting itu masih ada padaku.

Bandung, 21 Januari 2014
Read More

Sunday, January 12, 2014

Kalau Bisa, Aku Mau Menjadi Rumah Saja

Kalau bisa, aku mau menjadi rumah saja. Supaya kamu punya tempat untuk berteduh.
Yang menaungimu dari panasnya hiruk-pikuk dunia dewasa. Kalaupun mereka menghujanimu dengan sumpah-serapah, kamu tak perlu bergegas mencari payung. Ada atap yang akan menjagamu dari kuyup. Tunggu saja sampai reda. Supaya tak kedinginan, jangan lupa teguk kopi panasmu.

Kalau bisa, aku mau menjadi rumah saja. Supaya kamu punya tempat untuk tertawa-tawa. 
Hidup ini lucu, bukan? Apalagi Tuhan gemar berkelakar. Saat orang-orang menghardik tawamu, tertawa saja di sini. Yang keras, terbahak-bahak sampai sakit perut. Tak akan ada tetangga yang datang menggedor-gedor pintu dengan amuk - yang memaki-maki tawamu, karena membuat bayi mereka menangis-nangis.

Kalau bisa, aku mau menjadi rumah saja. Supaya kamu punya tempat untuk mengamuk. 
Lampiaskan saja di sini. Lempar apa yang mau kamu lempar, pecahkan apa yang rela kamu pecahkan. Ingin muntab, ya muntablah. Toh, rumah ini jauh dari keramaian. Tak akan ada sirene mobil polisi karena laporan tetangga yang sebenarnya hanya cemas akan harta bendanya.

Kalau bisa, aku mau menjadi rumah saja. Supaya kamu punya tempat untuk menari-nari. 
Kalau saja wajahmu rupawan laiknya bintang film kenamaan, kamu boleh saja menari-nari di luar. Percaya saja kalau orang-orang akan terkagum dengan energimu yang seolah enggan habis. Tapi dunia ini terlalu sering menuntut apa yang sedap dipandang saja. Biar kamu tak dianggap gila, digiring ke rumah sakit jiwa - menari-nari saja di sini, di rumahmu yang jauh dari penghakiman.

Kalau bisa, aku mau menjadi rumah saja. Supaya kamu punya tempat untuk beristirahat. 
Apa yang mereka minta darimu? Apa yang membuatmu terlalu sering menahan kantuk di depan tumpukan kertas kerja, di sekeliling orang-orang cerewet nan munafik? Pulang saja ke mari. Gelar kasurmu, ambil bantal dan gulingmu lalu selimuti badanmu. Tutup mata dan telingamu, karena waktu tidur sudah memanggil. Ah, jangan lupa susu hangatmu.

Kalau bisa, aku mau menjadi rumah saja. Supaya kamu punya tempat untuk membaca. 
Membaca apa saja. Memahami apa yang gemar dilupakan orang, menikmati rayuan kalimat puitis yang membentuk puisi cantik. Abai saja terhadap cendekia-cendekia itu, acuhkan saja lusinan nama besar yang muncul mendadak. Ini rumahmu, kamu tak perlu menjadi pintar - namamu juga tak perlu menjadi besar.

Kalau bisa, aku mau menjadi rumah saja. Supaya kamu punya tempat untuk menulis.
Apa yang mau kamu tulis? Tulislah di sini. Tentang segala hal yang tak kamu percaya, tentang segala kisah pulang yang tak pernah ada di luar. Tentang siapa yang menyambutmu, tentang siapa yang tak sanggup menyembunyikan senangnya walau pulangmu hanya sebentar.

Bandung, 12 Januari 2014
Read More

Saturday, January 11, 2014

Buat Si Pengirim Kopi

Mungkin kamu menganggapku sebagai salah satu manusia paling labil yang belum pernah kamu temui. Benar-benar belum pernah, bukan? Toh, secara harafiah kita memang belum pernah bertemu.

Mempertanyakan ini, mempertanyakan itu. Mengambil keputusan ini, lantas berpikir dan mengubahnya. Ada kenaifan yang mungkin kamu lihat lahir akibat dangkalnya pemahaman. Tapi, semakin dewasa, yang bertambah banyak bukan hanya flek hitam pada wajah yang memang hampir tak pernah aku gubris ini. Tanda tanya juga semakin banyak. Dan semakin dewasa, rasa-rasanya aku tak lagi pantas untuk abai pada tanda tanya tadi. Harus segera menggantinya menjadi titik.

Tapi kodratnya mungkin memang seperti itu. Buatku, dua puluh enam tahun tak layak lagi disebut muda. Katakanlah aku tak mau membusuk karena menjadi membosankan laiknya orang-orang tua kebanyakan. Tapi ternyata, mencegah diri menjadi membosankan di waktu muda dan usia seperti ini memang berbeda. Kalau dulu aku menjalani semuanya dengan tabrak sini, tabrak sana. Hari ini tak ada lagi istilah tabrak sini, tabrak sana. Yang ada memutar balik, menelikung, melaju bahkan banting kemudi.

Jadi sejak akhir Desember kemarin aku mempertanyakan ini dan itu. Pada diri sendiri, pada orang-orang yang aku anggap bisa memberi jawaban. Termasuk kamu. Tapi ternyata aku salah. Orang-orang itu, termasuk kamu, memang bisa menjawab. Tapi itu jawaban kalian, bukan jawabanku. Ternyata memang harus kujawab sendiri. Menikmati kening-kening yang berkerut, mensyukuri tidur malam yang tak tenang, memuja pagi yang ditemani ketakutan - ketakutan untuk menyesal.

Tadi malam, sepulang kerja - yang disemarakkan oleh entah berapa puluh kali acungan jempol lengkap dengan seruan "very good," "brilliant," "how could you do that," dan iming-iming bonus menggiurkan dari pimpinanku - aku menemukan paket di depan pintu kamar yang harga sewanya tak sampai lima ratus ribu setiap bulannya.

"Katanya, kopi itu seperti hidup. Pahit tapi harus tetap dinikmati. Well... Selamat berbahagia - dengan kopi!!" Tanpa harus mencantumkan namamu, aku juga sudah paham itu darimu. Membacanya membuatku mengulang kembali apa yang aku dengar dua puluh empat jam sebelumnya. Yang aku dengar, aku tak boleh menari-nari. Yang aku dengar, aku tak boleh jatuh. Yang aku dengar, aku tak boleh menjadi aku. 

Lalu aku teringat tentang apa yang aku pikirkan hampir setiap hari sejak sepuluh tahun lalu. Dari dulu, aku mau menari-nari - biar saja seperti orang gila. Biar saja tak ada yang paham. Kalau Maradona boleh melakukan grand jeté untuk menciptakan gol tangan Tuhannya, aku pun mau menari-nari. Kalau Roland Barthes berusaha untuk membiarkan dirinya dilahirkan oleh kekuatan dari setiap kekuatan yang hidup - yang ia sebut sebagai melupakan - aku pun mau menjadi saudara seibu dengannya. Manusia-manusia yang dilahirkan oleh sapientia.

Memilih untuk hidup seperti itu menyenangkan, bukan? Mungkin kamu berpikir kalau aku tak berbeda dengan orang-orang pra sejarah. Yang tetap optimis untuk menanti apa yang akan terjadi dalam masa sejarah. Merawat hal-hal yang sepertinya tak sesuai untuk gaya hidup zaman sekarang. Tapi, entah ini benar atau salah - yang pasti aku sudah membuktikan kata penulis itu. Terkadang hal yang semakin tua akan semakin hidup dan berharga, asalkan dirawat dengan benar.

Pagi ini aku bangun dan siap untuk ditertawakan. Kamu pernah ditertawakan? Mungkin mulut kita akan ikut terkekeh, perut kita akan ikut menegang - tapi terkadang tetap saja ingin berganti peran. Menjadi yang menertawakan, bukan yang ditertawakan. Tapi kata orang-orang, Tuhan itu komedian terbaik. Jadi kalau mereka memang menertawakan, anggap saja semakin mendekati apa yang Dia mau.

Saat kamu membaca ini, mungkin kita sudah berada di pulau yang sama. Jadi, semoga hari Seninmu dan hari Seninku bisa bersahabat, kalaupun tidak - tak masalah. Toh, perjumpaan dan perpisahan serta segala sesuatu yang ada di dalamnya hanya masalah perasaan.

Ngomong-ngomong, kamu sudah minum kopi pagimu? Aku sedang menikmati kopi pagiku. Kopi yang kamu kirim jauh-jauh dari pulau yang berbeda. Jadi, terima kasih. Terbang dan tibalah dengan selamat serta bahagia. Kalaupun tak bahagia, yang penting selamat. 

Ingat kalimat terakhir pada omelanku Sabtu lalu?









Read More

Saturday, January 4, 2014

Kataku, Ini Sabtu Malam yang Memuakkan

Bagaimana Sabtu malammu? Menyenangkan? Ada berapa banyak kalimat yang kau baca hari ini? Seberapa kaku perutmu akibat terpingkal-pingkal dengan mereka yang menjadi karibmu? Apakah hari ini biasa saja untukmu? Berapa jam yang kau habiskan untuk berpikir tentang cara terbaik menghabiskan hari ini? Berapa kali kau mengganti saluran televisi karena tak ada satupun tayangan yang sanggup mengusir bosanmu? Atau jangan-jangan kau sama sepertiku yang hari ini merasa muak?

Kau tahu? Aku muak hari ini. Oh, tenang saja. Ini bukan karena tanpa laki-laki atau hal-hal semacam itu. Sampai malam ini aku masih mempersetankannya. Aku muak dengan mereka yang mungkin saja menjadi teman-temanmu. Ya, mana aku tahu kau mengenal mereka atau tidak. Mana aku tahu kalau ternyata kau sering berbagi meja dengan mereka di warung-warung nasi harga enam ribu sepiring. 

Aku mau muntab. Seperti ingin menghabisi mereka dengan persediaan kata-kata tak masuk akal lagi kurang ajar yang entah sejak kapan aku kumpulkan. Katakanlah mereka memang secerdas itu, menghabiskan entah berapa ribu jam untuk mencerna kata apapun yang tertulis pada buku yang menjadi santapan mereka. Katakanlah - ya Tuhan, aku benar-benar muak dengan istilah ini - jam membaca mereka memang tinggi. Setinggi apa memangnya? Katakanlah pengetahuan mereka memang luas. Seluas apa memangnya? Kalau memang secerdas seperti yang selalu mereka gembar-gemborkan, menjelaskan pengukuran semacam itu tentu tak akan sampai memakan waktu berhari-hari, tentu tak akan sampai membuat lidah kelu dan kening berkerut-kerut.

Seingatku, aku pun bisa membaca. Bahkan sebelum duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Lalu apa bedanya dengan mereka? Bukankah kami menghabiskan tahun-tahun yang tak jauh berbeda hanya untuk belajar membaca? Bukankah kami sama-sama bisa mengeja "megalomaniak" dengan lancar lagi benar? 

Jadi, apa hebatnya jam baca mereka yang tinggi? Apa yang membuat mereka lupa dengan tujuan penulis? Bukankah mereka menulis untuk memberitahukan, untuk menjelaskan bahkan untuk mengajar apapun yang ada dalam pikiran mereka? Bukankah pada awalnya untuk mengubah tidak tahu menjadi tahu, untuk bergerak dari tidak paham menjadi paham? Lantas, kalau mereka hanya berkoar-koar laiknya bocah baru dua hari bersunat yang membangga-banggakan kelaki-lakiannya - bukankah mereka sudah mengkhianati apa yang menjadi esensi mulia dari tulisan itu sendiri?

Kau pikir ini tentang mereka yang memberi kritik? Bukan. Tenanglah, karena aku meyakini tentang sifat ksatria pada mereka yang memberi kritik. Dan tenang jugalah, karena aku percaya kalau kritik itu tak harus membangun seketika. Bukankah terkadang sebuah rumah harus dihancurkan dulu sebelum dibangun? Tapi buat mereka yang hanya bisa mengolok-olok, yang hanya bisa bersembunyi di balik jam baca mereka yang - katanya - tinggi, merekalah yang membuatku muak. Kau tahu? Muak semuak-muaknya.

Kau tahu kalau aku juga muak dengan Durna dan murid-muridnya, para Pandawa yang tersohor itu? Dia yang menolak dan menganggap rendah seseorang hanya karena perbedaan kasta. Perbedaan kasta tahi kucing! Pada akhirnya para Pandawa memang menjadi penghuni surga, tapi ingat apa yang ada dalam Maha Prastanika Parma itu? Lihat siapa yang pada akhirnya juga tinggal bersama mereka dalam kemuliaan yang setara di surga! Karna! Anak sais yang mereka olok-olok dan anggap remeh. Jadi, tolong sampaikan cerita ini pada mereka yang mungkin saja menjadi teman-temanmu. Siapa tahu orang-orang yang dianggap rendah karena jam baca yang kurang pada akhirnya akan bersanding dengan mereka.

Ah, aku membaca tulisan-tulisanmu. Kau orang baik, setidaknya dari apa yang kau tulis aku yakin kau tak suka gembar-gembor kosong. Kalaupun berisi, untuk apa digembar-gemborkan? Sesaat setelah kau bertanya hal ini, bersiaplah untuk mendengar alasan maha intelektual nan mulia yang tak lain adalah tameng akan nafsu atas sebuah pengakuan. Lagi-lagi tahi kucing!

Sebelum aku menyulut rokok kesukaan dan menghentikan segala celoteh ini, jawablah dengan jujur. Kau hidup bersama mendiang Pram, bukan? Walaupun tidak secara fisik, tapi apa yang menjadi isi hati dan pikirannya begitu melekat denganmu, bukan? Aku harap kau menjawab "ya" dengan segala kejujuran. Ingat surat terbukanya untuk Keith Foulcher? Dia bilang, megalomaniak itu bisa keluar dari konsep inferiornya - bukan karena kekuatan yang berasal dari dalam, tapi karena dari luar dirinya. Makanya, aku harap kau tetap menjadi seperti ini. Alih-alih mencengangkan, aku lebih suka kau yang meneduhkan - setidaknya lewat tulisanmu.

 Jadi, apa aku sudah mengacau Sabtu malammu? Maafkan kalau memang begitu. Aku berjanji, Sabtu malam selanjutnya akan aku buat semanis mungkin untukmu.


Read More
anggityamarini. Powered by Blogger.

© Bittersweet Footy Script, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena